GEBUG ENDE WARISAN LELUHUR

Gebug Ende pejarakan

Pejarakan.desa.id – Kemajuan teknologi  dan perkembangan zaman sudah merambah seluruh kehidupan masyarakat Desa Pejarakan pada khususnya dan Masyarakat Bali Barat pada Umumnya, Warisan tradisi leluhur masih tetap dipertahankan yang salah satunya adalah Tarian Gebug Ende. Sebuah tarian yang gerakannya hampir sama dengan gerakan silat tetapi memakai sarana berupa Ende (Perisai) dan alat pemukul / Penyalin. Gebug Ende adalah sebuah ritual sakral yang dilaksanakan ketika di Desa Pejarakan dilanda kemarau panjang dan Gebug Ende dijadikan ritual yang sakral untuk memohon turunnya hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa / Sang Pencipta Alam Semesta agar berkenan memberikan anugerah hujan kepada masyarakat. Gebug Ende sesungguhnya adalah ritual sakral yang berasal Desa Seraya, Karangasem – Bali. Ritual ini kemudian berkembang di Buleleng Barat karena banyak Penduduk Karang Asem Seraya yang merantau ke Desa Pejarakan sejak tahun 1925. Karena itulah Gebug Ende merupakan salah satu kegiatan tahunan yang dilaksanakan di Desa Pejarakan saat dilanda kemarau panjang.

Sabtu, 06 Januari 2018 Kepala Desa, Kelian Desa Pakraman, Pengempon dan sesepuh Desa mengadakan persembahyangan bersama dan Rapat Koordinasi Panitia Ngaben Masal Desa Pejarakan dan Desa Sumberkima Tahun 2018 yang dilaksanakan di Wantilan Pura Dalem Desa Pejarakan, mengingat Desa Pejarakan saat ini dilanda kemarau panjang maka di lanjutkan dengan Pembentukan Panitia Gebug Ende yang secara mendadak akan dilaksanakan mulai besok 07 Januari 2018 – 09 Januari 2018 (3 Hari berturut turut) yang dimulai dari pukul 13.00 Wita – selesai. Gebug Ende Kali ini bertujuan untuk melestarikan Adat istiadat, Seni dan Budaya leluhur, serta memohon kepada Tuhan yang Maha Esa / Sang Pencipta Alam Semesta agar berkenan memberikan anugerah hujan kepada masyarakat.

Dua orang laki laki mengenakan udeng (ikat kepala), tanpa baju dan menggunakan saput poleng yang sudah disiapkan oleh panitia berada ditengah tengah kerumunan masyarakat bersiap siap untuk melakukan ritual Gebug Ende, Mereka kemudian mengambil ende (semacam perisai) yang terbuat dari bambu, Kulit sapi dan alat pemukul yaitu penjalin yang terbuat dari rotan. Kedua laki laki tersebut akan saling serang sampai melukai tubuh lawan, sedangkan ende berfungsi sebagai penahan untuk melindungi diri dari serangan penjalin lawan. Tabuhan musik tradisional mengiringi pertarungan Kedua laki laki tersebut dapat membuat adrenalin yang melakukan Ritual Gebug Ende semakin bersemangat untuk saling serang. Saat mereka menggunakan Udeng (ikat kepala), tanpa baju dan menggunakan saput poleng, berada di tengah tengah tempat ritual Gebug Ende, memegang perisai, penyalin dan tabuh Gebug Ende dimulai maka keduanya adalah musuh dan siap melakukan penyerangan. 2 – 4 Orang yang menjadi wasit / Saye akan bersiap siap untuk memisahkan keduanya apabila terjadi pelanggaran pelanggaran atau salah satu pemain Gebug Ende sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan pertarungan dalam Gebug Ende yang berlangsung, maka wasit / saye akan memisahkan keduanya. Sehabis pertarungan Gebug Ende berlangsung kedua petarung akan berpelukan, saling meminta maaf dan tidak ada permusuhan diantara mereka.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan