MAKAM PAHLAWAN DI DESA PEJARAKAN

Setiap tanggal 17 Agustus Pemerintah Desa Pejarakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat selalu mengadakan ritual Tabur Bunga di Makam Pahlawan tersebut. Setiap jengkal tanah di negeri ini merupakan hasil dari perjuangan. Membebaskan wilayah yang telah ratusan tahun terjajah merupakan hasil kerja keras yang terus berkesinambungan. Dari upaya-upaya perundingan politik dengan pendekatan halus, hingga pada sikap tegas dengan benturan fisik yang memakan banyak korban, dengan apa yang kemudian kita kenal sebagai Revolusi Fisik. Para pejuang dalam korban revolusi fisik tentunya tidak semua dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan. Mereka yang gugur sebagian besar dimakamkan pada Taman Makam Pahlawan akan disebut sebagai Pahlawan. Namun, ada juga pejuang yang gugur dimakamkan pada desa-desa, yang keberadaannya seolah tidak diakui sebagai Pahlawan Kemerdekaan karena tidak berlokasi di Taman Makam Pahlawan.

Salah satunya keberadaan Dua Makam Pejuang Kemerdekaan yang dimakamkan di Komplek Pemakaman Islam Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Informasi yang didapat bahwa dua kuburan pada Komplek Pemakaman Islam Desa Pejarakan dikatakan Makam Pahlawan diungkapkan oleh para sesepuh desa yang menyaksikan langsung proses penguburan-nya. Kesaksian tersebut terus diceritakan pada generasi selanjutnya dan kemudian menjadi keyakinan bersama di kalangan masyarakat Desa Pejarakan (utamanya Umat Muslim) bahwa hingga sekarang menyebutnya sebagai Makam Pahlawan. Salah satu saksi sejarah yang juga veteran perang adalah Bapak Arsyad (Almarhum). Sebagaimana yang pernah ditulis MH Kamilun, bahwa Bapak Arsyad menceritakan jika dua jenazah tersebut dibawa dari perbukitan hutan yang gugur oleh serangan Belanda. Ia pun ingat dengan jelas, satu jenazah laki laki bernama Kasmidjan, yang satu Perempuan bernama Sumiati.

Informasi yang diperoleh dari sesepuh Desa ada kesamaan nama Kasmidjan yang diceritakan Alm. Arsyad, dengan nama-nama pejuang yang gugur pada Monumen Perjuangan Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, yang berlokasi di Cekik Gilimanuk. Dari 290 nama pejuang yang gugur dalam prasasti, terdapat nama Kasmijdan yang merupakan bagian dari Pasukan M pimpinan Kapten Markadi. Kapten Markadi merupakan pimpinan pasukan yang membawa misi membantu para pejuang di Bali untuk mengusir pasukan musuh Belanda. Bantuan pasukan dan senjata ini atas permintaan Letkol I Gusti Ngurah Rai yang menjadi pimpinan Tentara Keamanan Rakyat Sunda Kecil (TKR SK). Terbentuklah Pasukan M Pimpinan Kapten Markadi menyeberangi Selat Bali dengan membawa pasukan dan amunisi persenjataan. Untuk mengelabuhi musuh, pendaratan pasukan dibagi menjadi tigal lokasi, yakni pantai Celukanbawang, Candikusuma dan Yeh Kuning.Ternyata pihak belanda telah mengetahui rencana tersebut dan terjadilah perang laut pertama bagi kesejarahan peperangan Republik Indonesia. Dibawah komando Kapten Markadi, peperangan yang sebenarnya tak seimbang tersebut, akhirnya Pasukan M dapat mengalahkan angkatan laut Belanda dengan berhasil menenggelamkan satu dari dua kapal perang musuh. Kejadian ini pecah pada 4 April 1946.

Setelah berhasil mengalahkan armada laut Belanda, pasukan yang terbagi menjadi tiga pendaratan, berkumpul di daerah Peh Desa Manistutu Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana pada tanggal 10 April 1946. Pasukan M kemudian bergabung dan berkoordinasi dengan basis Perjuangan Rakyat Bali di Jembrana untuk menyusun kekuatan. Sebagaimana misi awal, bahwa terbentuknya Pasukan M untuk membantu Perjuangan pasukan Resimen TKR SK dibawah Pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai. Selama kurang lebih enam hari Pasukan M berada di Peh dengan sesekali membuat serangan-serangan terhadap Belanda, atas usul Lettu Gusti Ngurah Dwinda Pasukan M dipindahkan ke Desa Gelar Batuagung Jembrana dengan pertimbangan keamanan dan karena Desa Gelar secara lokasi lebih dekat dengan basis Perjuangan Pemuda Jembrana di kota Negara. Di tempat inilah kemudian menjadi markas dalam melakukan pembinaan teritorial dan strategi pertempuran pada pemuda Jembrana. Karena informasi yang beredar bahwa Belanda terus mengejar Pasukan Pimpinan I Gusti Ngurah Rai yang berada di Munduk Malang Kabupaten Tabanan, Kapten Markadi membagi tugas pasukannya. Membentuk pasukan kecil dengan tentara pilihan yang langsung dipimpin Kapten Markadi dengan tugas tempur membantu I Gusti Ngurah Rai ke arah Timur Bali, sebagian dibentuk pasukan khusus untuk kembali ke Jawa guna mengambil persenjataan, dan pasukan lain tetap berada di Desa Gelar.

2 Comments

Tinggalkan Balasan