KESAKRALAN PURA SIDHI TANJUNG GELAP DESA PEJARAKAN

Tarian Dewa Ayu

Piodalan (Upacara) Pura Sidhi Tanjung Gelap Desa Pejarakan yang di gelar pada Sabtu 18 Nopember 2017 pukul 12:00 hingga selesai yang bertepatan dengan Tilem kelima. Proses upacara yang berjalan lancar hingga sore hari tersebut diiringi dengan gamelan gong serta menampilkan tari tarian sakral yang dipercayai warga sebagai rangkaian upacara keagamaan. Upacara ini digelar setiap tahun sekali pada Puja Wali Sasih Kelima, namun jika kemarau terus berlangsung maka ritual untuk meminta hujan akan kembali digelar karena petani disini hanya mengandalkan air dari hujan untuk kebutuhan pertaniannya.

 

Pura Sidhi Tanjung Gelap ini dipercayai kerama Desa Adat Pejarakan untuk memulai musim tanam para petani dan meminta anugerah hujan jika terjadi kemarau panjang, dan masyarakat juga mengaturkan hasil panen jika sudah panen dari hasil pertanian yang selama ini mampu dikelola di kebunnya masing-masing. Lokasi Pura yang berada di tengah kawasan hutan milik Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu selalu dijaga kesakralannya oleh masyarakat di Teluk Banyuwedang bahkan Pura Sidhi Tanjung Gelap berdekatan dengan Hotel Plataran dan The Menjangan.

Pada saat berlangsungnya upacara persembahyangan yang diiringi dengan Gamelan Gong serta diiringi dengan nyanyian nyanyian keagamaan, puluhan kerama adat mendadak kesurupan / kerahuan, mulai dari kerama anak-anak hingga orang dewasa dengan memegang sebilah keris yang sebelumnya sudah disiapkan oleh kerama pengempon pura, kemudian dengan tidak sadar keris tersebut di ambil dan menusuk dada masing masing, namun kejadian tersebut tidak membuat luka sama sekali. Tarian Sakral tersebut Dilakukan dengan mata tertutup dan tidak sadarkan diri, semakin keras gamelan dipukul maka para penari semakin keras juga menekankan keris ke dadanya. Dipercaya oleh masyarakat saat menari tarian tersebut sudah ada roh halus yang memasuki tubuh para penari tersebut.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan